Membangun kesadaran spiritual, sosial dan kepedulian lingkungan dalam perspektif islam
Bencana datang tanpa diduga
keberkahan, melapangkan rezeki, dan melindungi negeri kita dari musibah yang tampak maupun yang tersembunyi
ا َل ْـحَمْد ُ ل ِ ل ّ ٰه ِ ال ْعَل ِيم ِ الْ خ َب ِيرِ، السّ َ مِيع ُ ال ْب َصِ يرُ، وَأَشْهَد ُ أَن ْ لَا إِ ل ٰه َ إِ لّ َ ا الل ّ ٰه ُ وَحْدَه ُ لَا ُشَرِيك َ ل َهُ، ال ْعَل ِي ّ ُ لـْكَب ِيرُ، وَأَشْهَد ُ أَن ّ َ ن َب ِي ّ َن َا مُح َم ّ َدًا عَبْد ُ الل ّ ٰه ِ وَرَسُول ُهُ، ال ْب َشِير ُ الن ّ َذِير وَالسّ ِرَاج ُ الْم ُن ِيرُ، الل ّ ٰهُم ّ َ صَل ّ ِ وَسَلّ ِم ْ وَبَارِك ْ عَل َى عَبْدِك َ وَرَسُول ِك َ سَي ّ ِدِنَا مُح َم ّ َدٍ، َوَعَل َى آل ِه ِ وَأَصْ ح َاب ِه ِ ذَوِي ال ْفَضْل ِ الـْكَب ِيرِ، أَمّ َ ا ب َعْدُ،ف َي َا أَيّ ُ ه َا الْ ح َاضِرُون َ ات ّ َقُوا الل ّ ٰه حَق ّ َ ت ُقَات ِهِ، وَلَا ت َم ُوت ُن ّ َ إِ لّ َ ا وَأَ ن ْتُم ْ مُسْل ِم ُونَ، ق َال َ الل ّ ٰه ُ ت َعَال َى ف ِي ال ْقُرْآن ِ ال ْعَظِيم ِ : ْأَعُوذ ُ بِالل ّ ٰه ِ مِن َ الشّ َ يْطَان ِ الرّ َجِيم ِ ، ب ِس ْم ِ الل ّ ٰه ِ الرّ َحْمٰن ِ الرّ َحِيم ِ : هُو َ ال ّ َذِي ْ جَعَلـ َكُم ۤ ف ِى الْا َرْضِ ۗ ف َمَنْ كَفَر َ ف َعَل َيْهِ كُفْر ُهٗ ۗ وَلَا ي َزِي ْدُ الـْكٰفِرِي ْنَ كُفْر ُهُمْ عِنْدَ َف ى ٕ ِخَل ٰ ًرَبّ ِه ِم ْ ا ِ لّ َ ا مَقْت ًاۚ وَلَا ي َزِي ْد ُ الـْكٰفِرِي ْن َ كُفْر ُهُم ْ ا ِ لّ َ ا خَسَار Hadirin Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. Ketakwaan bukan hanya diwujudkan dengan memperbanyak ibadah mahdhah seperti shalat, puasa, dan zikir, tetapi juga dengan menjaga amanah Allah berupa alam semesta. Sebab bumi yang kita tempati adalah titipan Allah yang harus dipelihara, bukan dirusak. Tema khutbah kita hari ini adalah tentang bencana yang datang tanpa diduga. Kita semua menyaksikan bahwa banjir bisa datang tiba-tiba, tanah longsor dapat terjadi tanpa peringatan, angin kencang, gelombang pasang, abrasi pantai, hingga berbagai kerusakan lingkungan sering kali muncul ketika manusia lengah. Karena itu, Islam mengajarkan agar kita tidak hanya bersikap reaktif setelah bencana terjadi, tetapi juga proaktif dalam mencegah sebab-sebabnya. Allah Swt. berfirman: ٍوَمَا أَصَاب َكُم مِ ّن مُ ّصِ يب َة ٍ ف َب ِمَا كَسَب َت ْ أَ ي ْدِيكُم ْ وَي َعْفُو عَن كَث ِير “Musibah apa pun yang menimpa kalian adalah akibat dari perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan banyak kesalahan.” (QS. Asy-Syura: 30). Ayat ini mengajarkan bahwa sebagian musibah merupakan peringatan agar manusia memperbaiki perilakunya. Islam tidak mengajarkan kita untuk menyalahkan korban bencana, tetapi mengajak seluruh manusia melakukan introspeksi, memperbaiki hubungan dengan Allah, dan memperbaiki hubungan dengan alam. Allah juga berfirman: ِظَهَر َ ال ْفَسَاد ُ ف ِي ال ْب َر ِ ّ وَال ْب َحْر ِ بِم َا كَسَب َت ْ أَ ي ْدِي الن َ ّاس “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh ulah tangan manusia.” (QS. Ar-Rum: 41). Ayat ini sangat jelas menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan bukanlah sesuatu yang muncul begitu saja. Ada sebab-sebab yang lahir dari perilaku manusia: penebangan hutan tanpa kendali, pembuangan sampah sembarangan, penyempitan sungai, penutupan saluran air, perusakan pesisir, dan berbagai bentuk kelalaian lainnya. Maka bencana alam sering kali bukan hanya persoalan cuaca, tetapi juga persoalan moral, sosial, dan spiritual. Jamaah Jumat rahimakumullah, Kita yang tinggal di Kota Semarang tentu tidak asing dengan berbagai tantangan kebencanaan. Ketika musim hujan tiba, beberapa wilayah menghadapi banjir akibat curah hujan yang tinggi, meluapnya sungai, serta saluran drainase yang tidak mampu menampung limpasan air. Di kawasan pesisir Semarang, masyarakat juga menghadapi ancaman rob dan abrasi yang telah berlangsung selama bertahuntahun. Perubahan iklim yang menyebabkan kenaikan muka air laut semakin memperberat kondisi tersebut. Semua ini mengingatkan kita bahwa bencana dapat datang tanpa diduga sehingga membutuhkan kesiapsiagaan, ikhtiar, dan kepedulian bersama. Sebagai warga Semarang, kita memiliki tanggung jawab untuk ikut menjaga lingkungan sesuai kemampuan masingmasing. Tidak membuang sampah ke sungai dan saluran air, menjaga kebersihan drainase di lingkungan tempat tinggal, mendukung penghijauan, serta ikut menjaga dan menanam mangrove di kawasan pesisir merupakan ikhtiar nyata yang sangat bermanfaat. Mangrove bukan hanya menjaga ekosistem laut, tetapi juga menjadi benteng alami yang membantu mengurangi dampak abrasi dan gelombang pasang. Demikian pula menjaga daerah resapan air dan tidak merusak lingkungan merupakan bentuk syukur atas nikmat Allah sekaligus ikhtiar menjaga keselamatan bersama. Ikhtiar seperti ini sejalan dengan semangat gotong royong yang telah menjadi budaya masyarakat Semarang. Ketika pemerintah, ulama, pengurus masjid, akademisi, para pemuda, dan seluruh lapisan masyarakat saling bekerja sama menjaga lingkungan, maka insyaallah risiko bencana dapat dikurangi. Inilah salah satu wujud pengamalan firman Allah bahwa manusia diciptakan sebagai khalifah di muka bumi, yang bertugas memakmurkan dan menjaga, bukan merusak. Jamaah rahimakumullah Dalam hadis yang sangat masyhur, Rasulullah ﷺ bersabda:لا ضرر ولا ضرار “Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain.” Hadis ini menjadi dasar penting dalam syariat Islam bahwa segala bentuk tindakan yang menimbulkan mudarat harus dihindari. Karena itu, membuang sampah ke sungai, menutup drainase, merusak hutan, atau mengabaikan kebersihan lingkungan bukanlah perkara kecil. Semua itu dapat menjadi sebab datangnya mudarat yang lebih besar kepada masyarakat luas. Para ulama dalam kitab-kitab klasik telah lama mengingatkan pentingnya menjaga kemaslahatan umum. الضرر يزال “Kemudaratan harus dihilangkan.” Kaidah ini menjadi dasar bahwa segala upaya mengurangi risiko bencana merupakan bagian dari tuntunan syariat. Membersihkan saluran air, memperbaiki drainase, menjaga sungai dari sampah, serta menanam pohon dan mangrove merupakan bentuk nyata menghilangkan kemudaratan. Jika saluran air dibiarkan tersumbat, maka air akan meluap. Jika sungai dipenuhi sampah, maka banjir akan datang. Jika pantai kehilangan mangrove, maka abrasi akan semakin parah. Maka mencegah kerusakan sejak awal adalah bagian dari ibadah. Hadirin yang dimuliakan Allah, Sering kali banjir bukan hanya karena hujan deras, melainkan juga karena saluran air dipenuhi sampah. Sungai menyempit akibat bangunan liar. Hutan gundul karena penebangan tanpa kendali. Pantai mengalami abrasi karena hutan mangrove ditebang. Semua ini menunjukkan bahwa bencana alam datangnya tidak terduga, tetapi sebab-sebabnya sering kali dapat kita lihat dan kita cegah. Karena itu, menjaga lingkungan bukan sekadar urusan pemerintah, tetapi merupakan tanggung jawab bersama. Orang tua mendidik anak agar tidak membuang sampah sembarangan. Pemuda menggerakkan kerja bakti. Tokoh masyarakat menghidupkan semangat gotong royong. Takmir masjid mengajak jamaah menjaga kebersihan sekitar masjid dan saluran air. Masyarakat pesisir bersama-sama menanam mangrove. Semua itu adalah bentuk ibadah sosial yang sangat mulia. Rasulullah ﷺ bersabda:الإيمان بضع وسبعون أو بضع وستون شعبة، فأفضلها قول: لا إله إلا الله، وأدناها إماطة الأذى عن الطريق، والحياء شعبة من الإيمان “Iman memiliki lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang, yang paling utama ialah ucapan la ilaha illallah, yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan dan malu termasuk cabang dari iman.” (HR. Muslim). Jika menyingkirkan gangguan kecil dari jalan saja bernilai iman, maka membersihkan saluran air agar tidak menimbulkan banjir tentu lebih besar lagi nilai pahalanya karena manfaatnya dirasakan masyarakat luas. Menjaga kebersihan lingkungan adalah bagian dari iman, bagian dari akhlak, dan bagian dari tanggung jawab sosial. Kemaslahatan umum merupakan bagian dari tujuan syariat. Agama hadir untuk menjaga lima perkara pokok: agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Semua tujuan tersebut akan terganggu apabila bencana terus terjadi akibat kelalaian manusia. Maka menjaga lingkungan berarti menjaga jiwa, menjaga harta, dan menjaga kehidupan generasi mendatang. Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, Di wilayah pesisir, salah satu ikhtiar penting adalah menanam mangrove. Mangrove mampu menahan abrasi, meredam gelombang tinggi, menjaga habitat laut, serta menjadi benteng alami dari bencana pesisir. Menanam mangrove bukan hanya kegiatan lingkungan, tetapi juga amal saleh yang bernilai besar di sisi Allah. Menanam pohon termasuk amal yang sangat dianjurkan Nabi ﷺ. Beliau bersabda: ُ َه ل ُه ْ ِن م َق ِر ُ غَر ْ سًا إِ لاّ َ كَانَ مَا أ ُ كِلَ مِنْه ُ ل َه ُ صَدَق َة ٌ وَمَا س ِة َه ُ صَدَق َة ٌ إِ ل َى ي َوْمِ القِي َام َ ل َس ُ ِر ْ َغ ي ٍم ِل ْس ُ م ْن ِمَا م صَدَق َة ٌ وَلا َ ي َرْزَؤُه ُ أَ حَدٌ إِ لاّ َ كَان Artinya, “Dari sahabat Jabir ra, ia berkata, Rasulullah saw bersabda, ‘Tiada seorang muslim yang menanam pohon kecuali apa yang dimakan bernilai sedekah, apa yang dicuri juga bernilai sedekah. Tiada pula seseorang yang mengurangi buah (dari pohon-) nya melainkan akan bernilai sedekah bagi penanamnya sampai hari Kiamat,’” (Imam Zakiyuddin Abdul Azhim Al-Mundziri, At-Targhib wat Tarhib minal Haditsisy Syarif, [Beirut, Darul Fikr: 1998 M/1418 H], juz III, halaman 304). Apabila menanam satu pohon saja bernilai sedekah, maka menanam ribuan mangrove demi melindungi masyarakat tentu menjadi sedekah jariyah yang pahalanya terus mengalir. Bahkan manfaatnya tidak hanya dirasakan hari ini, tetapi juga oleh anak cucu kita di masa depan. Inilah bentuk amal yang menggabungkan nilai spiritual, sosial, dan ekologis sekaligus. Dalam kitab الحكم العطائية, Ibnu Athaillah as-Sakandari berkata:ربما فتح لك باب الطاعة وما فتح لك باب القبول، وربما قضى عليك بالذنب فكان سبب ًا في الوصول Hikmah ini mengajarkan bahwa setiap peristiwa, termasuk musibah, hendaknya mendorong manusia semakin dekat kepada Allah, semakin rendah hati, serta semakin peduli kepada sesama. Musibah bukan hanya untuk ditangisi, tetapi untuk direnungi. Bencana bukan hanya untuk disesali, tetapi untuk dijadikan pelajaran agar kita kembali kepada Allah dan memperbaiki kehidupan. Maka marilah kita mulai dari lingkungan terkecil. Jangan membuang sampah sembarangan. Jangan meremehkan saluran air yang tersumbat. Jangan menebang pohon tanpa tanggung jawab. Jangan membiarkan pesisir kehilangan mangrove. Jadikan masjid sebagai pusat kesadaran lingkungan. Jadikan majelis taklim sebagai tempat menumbuhkan kepedulian sosial. Jadikan keluarga sebagai sekolah pertama dalam menjaga alam. Semoga usaha kecil yang dilakukan secara istiqamah menjadi sebab Allah menjaga kampung kita dari berbagai bencana. Semoga Allah menurunkan keberkahan, melapangkan rezeki, dan melindungi negeri kita dari musibah yang tampak maupun yang tersembunyi.بارك الله لي ولـكم في القرآن العظيم، ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم، وتقبل مني ومنكم تلاوته، إنه هو السميع العليم. ﴾Khutbah Kedua﴿ ا َلْ ح َم ْدُ ل ِ ل ّ ٰه ِ ال ّ َذِيْ أَمَر َ نَا بِا ْلاِتّ ِ ح َادِ وَاْلاِعْت ِصَامِ بِ ح َبْلِ الله ِ الْم َت ِي ْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا ا ِ ل ٰهَ إِ لّ َ ا الله ُ وَحْدَهُ لا َشَرِي ْكَ ل َهُ، إِ يّ َ اهُ ن َعْب ُدُ وَإ ِ يّ َ ا ُه ن َسْت َعِي ْنُ. وَأَشْهَدُ أَنّ َ مُح َم ّ َدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْل ُهُ، ا َلْم َبْعُوْثُ رَحْم َةً ل ِلْعَال َم ِي ْنَ. ا َلل ّ َهُمّ َ صَلّ ِ عَل َى سَي ّ ِدِنَا مُح َم ّ َدٍ وَعَل َى آل ِهِ وَأَصْ ح َاب ِهِ أَجْم َعِي ْنَ ف َي َا أَيّ ُ ه َا الْ ح َاضِرُونَ، ا ِ ت ّ َقُوا الله َ مَا اسْ ت َطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا إِ ل َى مَغْفِر َةِ رَبّ ِ ال ْعَال َم ِي ْنَ. إِنّ َ الله َ وَمَلاَئ ِكَت َهُ ي ُصَل ّ ُوْنَ عَل َى الن ّ َبِيّ ِ ، يَاأَيّ ُ ها َ ال ّ َذِي ْنَ ء َ امَن ُوْا صَل ّ ُوْا عَل َيْهِ وَسَل ّ ِم ُوْا ت َسْل ِيْمًا، الل ّ ٰهُمّ َ صَلِ ّ وَسَلِ ّمْ عَل َى سَي ِ ّدِنَا مُح َم ّ َدٍ، وَعَل َى اٰل ِهِ وَصَ ح ْب ِهِ أَجْم َعِي ْنَ ا َلل ّ ٰهُمَ ّ اغْفِرْ ل ِلْم ُؤْمِن ِي ْنَ وَالْم ُؤْمِن َاتِ وَالْم ُسْل ِم ِي ْنَ وَ الْم ُسْل ِم َاتِ ا َلا َحْي َاء ِ مِنْه ُمْ وَالْا َمْوَاتْ إِ ن ّ َكَ سَم ِيْعٌ ق َرِيْبٌ مُج ِيْبُ الدّ َعَوَاتِ وَيَا ق َاضِيَ الْ ح َاجَاتِ ب ِرَحْم َت ِكَ يَا ا َرْحَمَ الرّ َحِمِي ْن ا َلل ّ ٰهُمَ ّ اغْفِرْل َن َا وَل ِوَال ِدَيْن َا وَارْحَمْهُمَا كَ م َا رَب َ ّي َانَا صِغَارًا، ا َلل ّهُمّ َ إِ نّ َ ا ن َسْأَ ل ُكَ إِ يْم َانًا كَامِل ًا وَي َقِيْن ًا صَادِق ًا وَرِزْق ًا وَاسِعًا وَق َل ْب ًا خَاشِعًا وَل ِسَانًا ذَاكِر ًا وَحَل َالًا طَي ّ ِب ًا وَت َوْب َةً ن َصُوْحًا. ا َلل ّهُمّ َ إِ نّ َ ا ن َسْأَ ل ُكَ مُوْجِب َاتِ رَحْم َت ِكَ وَعَز َ ائِم َ مَغْفِر َت ِكَ وَالسّ َ لاَمَةَ مِنْ كُلّ ِ إِثْمٍ وَال ْغَن ِيْمَةَ مِنْ كُلّ ِ ب ِرّ ٍ وَال ْفَوْزَ بِالْ ج َن ّ َةِ وَالن ّ َجَاةَ مِنَ الن ّ َارِ، يَامُقَل ّ ِبَ ال ْقُل ُوبِ ث َبّ ِتْ ق َل ْبِي عَل َى دِيْن ِكَ وَعَل َى طَاعَت ِكَ، رَب َ ّن َا آت ِن َا ف ِي الدُ ّنْي َا حَسَن َةً وَف ِي الْآخِرَةِ حَسَن َةً وَقِن َا عَذَابَ الن َ ّارِ عِب َادَ الله ِ ، إِنّ َ الله َ يَأْمُر ُ بِال ْعَدْلِ وَاْلإ ِحْسَانِ وَإ ِ يت َآئِ ذِي ال ْقُرْب َى وَي َنْهَى عَنِ ال ْفَحْشَآء ِ وَالْم ُنكَرِ وَال ْب َغْي ِ ي َعِظُكُم ْ ل َعَلـ ّ َكُم ْ ت َذَكّ َ ر ُوْنَ. ف َاذْكُر ُوا الله َ ال ْعَظِيْم َ ي َذْكُرْكُم ْ وَادْعُوْه ُ ي َسْت َ ْم لـ َك ُ