Menanam Mangrove sebagai Amal Jariyah dan Wujud Menjaga Amanah Allah

Menanam Mangrove sebagai Amal Jariyah dan Wujud Menjaga Amanah Allah

Sedekah Lingkungan


Khutbah ini membahas pentingnya menjaga lingkungan sebagai bagian dari ibadah dan amanah manusia kepada Allah SWT. Islam mengajarkan bahwa manusia diciptakan untuk memakmurkan bumi, bukan merusaknya. Oleh karena itu, menjaga kebersihan, merawat tumbuhan, melestarikan laut, dan melindungi lingkungan pesisir merupakan bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Salah satu bentuk kepedulian terhadap lingkungan yang dibahas dalam khutbah ini adalah menanam mangrove sebagai sedekah jariyah. Mangrove memiliki banyak manfaat, antara lain mencegah abrasi pantai, meredam gelombang laut, mengurangi dampak banjir rob, menyerap karbon, serta menjadi habitat bagi ikan, udang, kepiting, dan berbagai makhluk hidup lainnya. Dalam khutbah tersebut dijelaskan bahwa Rasulullah SAW mengajarkan umat Islam untuk menanam pohon dan memberikan manfaat kepada makhluk hidup. Setiap tanaman yang memberikan manfaat kepada manusia maupun hewan dapat bernilai sedekah. Dengan demikian, menanam dan merawat mangrove bukan hanya kegiatan penghijauan, tetapi juga amal saleh yang manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang. Khutbah ini juga menyoroti permasalahan lingkungan pesisir Kota Semarang, seperti abrasi, banjir rob, penurunan muka tanah, dan perubahan iklim. Kerusakan tersebut dapat mengganggu kehidupan masyarakat, merusak rumah dan tambak, serta mengancam mata pencaharian nelayan. Keberadaan mangrove menjadi salah satu upaya alami untuk membantu melindungi kawasan pesisir dan menjaga keberlangsungan kehidupan masyarakat. Selain itu, Islam melarang perbuatan yang menyebabkan kerusakan lingkungan, seperti mencemari air, membuang sampah sembarangan, dan merusak kawasan pesisir. Menjaga lingkungan berkaitan dengan tujuan syariat Islam, khususnya menjaga jiwa, harta, dan keturunan. Oleh sebab itu, setiap orang memiliki tanggung jawab untuk menjaga kelestarian alam demi kepentingan bersama dan generasi mendatang.


﴾Khutbah Pertama﴿ ُالْ ح َم ْد ُ ل ِ ل ّ ٰه ِ رَب ّ ِ ال ْعَال َم ِي ْنَ، وَب ِه ِ ن َسْت َعِي ْن ُ عَل َى أ ُمُوْر ِ الدّ ُ نْي َا وَالدّ ِي ْنِ، وَالصّ َ ل َاة ُ وَالسّ َ ل َام ِعَل َى أَشْرَف ِ اْلأَ ن ْب ِي َاء ِ وَالْم ُرْسَل ِي ْنَ، ن َب ِي ّ ِن َا مُح َم ّ َدٍ صَل ّ َى الله ُ عَل َيْه ِ وَسَلّ َم َ وَعَل َى اٰل ِه ه َ إِ لّ َ ا ٰ إِ ل وَأَ صْ ح َاب ِهِ وَالت ّ َاب ِعِي ْنَ وَمَنْ تَب ِعَهُمْ بِإ ِ حْسَانٍ إِ لىَ ي َوْمِ الدّ ِي ْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا ُالله وَحْدَه ُ لَا شَرِي ْك َ ل َه ُ الْم َل ِك ُ الْ ح َق ّ ُ اْلم ُب ِي ْن. وَأَشْهَد ُ أَن ّ َ سَي ّ ِدَنَا مُح َـمّ َدًا عَبْدُه ّ َوَرَسُوْل ُه ُ صَادِق ُ ال ْوَعْد ِ اْلأَمِي ْن. أَمَ ّا ب َعْد ُ ف َي َا أَيّ ُ ه َا الْ ح َاضِرُوْنَ. ا ِ ت ّ َقُوا الله َ حَق ت ُقَات ِه ِ وَلَا ت َم ُوْت ُن ّ َ إِ لّ َ ا وَأَ ن ْتُم ْ مُسْل ِم ُوْنَ. ف َقَال َ الله ُ ت َعَال َى; ا ِن ّ َ ال ّ َذِي ْن َ اٰمَن ُوْا وَعَمِل ُوا الصّ ٰ ل ِحٰتِ ل َه ُمْ ا َجْرٌ غَيْرُ مَمْن ُوْنٍ ࣖ ٨ ۝ Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. Ketakwaan bukan hanya tampak dalam salat, puasa, zakat, dan haji, tetapi juga dalam cara kita memperlakukan bumi, air, udara, tumbuhan, dan seluruh makhluk Allah. Islam datang sebagai رحمة للعالمين, rahmat bagi seluruh alam. Karena itu, menjaga lingkungan bukanlah urusan sampingan, melainkan bagian dari ibadah dan amanah kekhalifahan. Allah Swt. berfirman:﴿هُو َ أَ ن ْشَأَكُم ْ مِن َ الْأَرْض ِ وَاسْ ت َعْمَر َكُم ْ فِيه َا﴾ “Dia telah menciptakan kamu dari bumi dan menjadikan kamu pemakmurnya.” (QS. Hud: 61) Ayat ini menunjukkan bahwa manusia tidak diciptakan untuk merusak bumi, tetapi untuk memakmurkannya. Maka setiap usaha menjaga alam, menanam pohon, merawat tanah, membersihkan sungai, dan melestarikan pesisir adalah bagian dari tugas agama. Salah satu bentuk sedekah lingkungan yang sangat penting hari ini adalah menanam mangrove. Mangrove bukan sekadar pohon pesisir. Ia adalah benteng kehidupan. Akarakarnya menahan abrasi, meredam gelombang, menjadi tempat hidup ikan dan biota laut, menyerap karbon, menjaga kualitas air, dan melindungi masyarakat dari banjir rob serta kerusakan pantai. Maka menanam mangrove bukan hanya kegiatan sosial, tetapi amal yang menyentuh aspek ibadah, kemaslahatan, dan keberlanjutan hidup. Rasulullah ﷺ bersabda: ْ غَر ْ سًا، أَ وْ ي َزْرَعُ زَرْعًا، ف َي َأْ كُلُ مِنْه ُ طَيْرٌ، أَ وْ إِ ن ْسَانٌ، أَو ُمَا مِنْ مُسْلِمٍ ي َغْرِس ٌبَه ِيمَةٌ، إِ لَ ّا كَانَ ل َه ُ ب ِهِ صَدَق َة “Tidaklah seorang Muslim menanam tanaman atau pohon, lalu dimakan oleh burung, manusia, atau hewan, melainkan menjadi sedekah baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Hadis ini sangat agung. Ia mengajarkan bahwa manfaat yang mengalir kepada makhluk hidup bernilai sedekah. Jika satu pohon biasa saja bernilai sedekah, maka mangrove yang manfaatnya meluas kepada manusia, hewan, laut, dan lingkungan tentu lebih layak untuk kita rawat dan tanam. Pesan ini menjadi sangat dekat dengan kehidupan kita sebagai masyarakat Kota Semarang. Kita mengetahui bahwa sebagian wilayah pesisir Semarang, seperti kawasan Tambakrejo, Trimulyo, Terboyo, Mangunharjo, Mangkang, Tugu, dan sekitarnya, selama bertahun-tahun menghadapi ancaman abrasi, banjir rob, penurunan muka tanah, serta dampak perubahan iklim. Banyak saudara-saudara kita yang harus berjuang menghadapi genangan air laut yang datang berulang kali, mengganggu aktivitas, merusak rumah, tambak, jalan, dan mata pencaharian. Dalam kondisi seperti ini, keberadaan hutan mangrove bukan sekadar penghijauan, tetapi merupakan benteng alami yang Allah karuniakan untuk melindungi pesisir. Mangrove membantu mengurangi abrasi, meredam hempasan gelombang, menahan sedimen, menjadi tempat berkembang biaknya ikan, udang, dan kepiting, serta menyerap karbon yang membantu mengurangi dampak perubahan iklim. Karena itu, menjaga dan menanam mangrove di pesisir Semarang merupakan ikhtiar nyata dalam menjaga nikmat Allah sekaligus melindungi kehidupan masyarakat. Bahkan Rasulullah ﷺ memberi dorongan yang sangat kuat agar manusia tidak berhenti berbuat baik meskipun keadaan tampak sangat genting. Beliau bersabda:إِن ْ ق َامَت ِ السّ َ اعَة ُ وَف ِي ي َد ِ أَحَدِكُم ْ ف َسِيل َةٌ، ف َإ ِن ِ اسْ ت َطَاع َ أَن ْ لَا ي َقُوم َ حَتّ َى َا ه ْس ِر ْ َغ ْي َل ي َغْرِسَه َا ف “Jika kiamat telah tiba sementara di tangan salah seorang dari kalian ada bibit tanaman, maka jika ia mampu menanamnya sebelum kiamat terjadi, hendaklah ia menanamnya.” (HR. Ahmad) Hadis ini mengandung pesan yang sangat dalam: jangan pernah meremehkan kebaikan, walaupun hasilnya tampak kecil atau waktunya terasa sempit. Menanam mangrove adalah simbol optimisme iman. Kita menanam untuk masa depan, untuk anak cucu, untuk masyarakat pesisir, dan untuk pahala yang terus mengalir. Rasulullah ﷺ juga bersabda: ف ِي كُل ّ ِ كَب ِدٍ رَطْ ب َة ٍ أَجْر “Pada setiap makhluk hidup yang bernyawa ada pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim) Maka memberi manfaat kepada makhluk hidup, menjaga habitatnya, dan melestarikan tempat hidupnya adalah bagian dari amal saleh. Mangrove menjaga kehidupan banyak makhluk. Karena itu, siapa yang menanam dan merawatnya, ia sedang menanam pahala di sisi Allah. Rasulullah ﷺ juga bersabda: ُمَن ْ أَحْي َا أَرْضًا مَيْت َة ً ف َهِي َ ل َه “Barang siapa menghidupkan tanah mati, maka tanah itu menjadi miliknya.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan lainnya) Para ulama menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan keutamaan ihyā’ al-mawāt, yaitu menghidupkan tanah yang mati dan tidak produktif agar menjadi bermanfaat. Dalam konteks hari ini, rehabilitasi mangrove, penghijauan pesisir, dan pemulihan kawasan rusak adalah bentuk nyata dari menghidupkan bumi yang mati. Ini bukan sekadar proyek lingkungan, tetapi bagian dari semangat syariat dalam memakmurkan bumi. Ini menunjukkan bahwa amal yang manfaatnya berkelanjutan adalah amal yang sangat dicintai Allah. Mangrove adalah contoh nyata amal yang manfaatnya panjang: hari ini ditanam, besok melindungi pantai, tahun depan menjadi habitat ikan, dan puluhan tahun kemudian tetap memberi manfaat. Makna hadis-hadis tentang menanam pohon bahwa syariat mendorong عمارة الأرض—memakmurkan bumi— karena di dalamnya terdapat manfaat umum bagi manusia dan makhluk hidup. Artinya, Islam tidak memandang alam sebagai objek eksploitasi semata, tetapi sebagai amanah yang harus dijaga. Firman Allah yang berbunyi:﴿ظَهَر َ ال ْفَسَاد ُ ف ِي ال ْب َر ّ ِ وَال ْب َحْرِ﴾ menjelaskan bahwa kerusakan di darat dan laut muncul karena dosa, maksiat, dan ulah manusia yang melampaui batas. Maka kerusakan lingkungan bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga persoalan moral dan spiritual. Ketika manusia serakah, menebang hutan, mencemari laut, dan merusak pesisir, maka kerusakan itu kembali kepada manusia sendiri. Allah melarang segala bentuk kerusakan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, karena bumi ini diciptakan untuk kebaikan dan kemaslahatan. Maka merusak mangrove, membuang sampah ke laut, dan mengabaikan pesisir adalah bentuk pelanggaran terhadap larangan Allah. Syukur atas nikmat bumi bukan hanya dengan lisan, tetapi dengan tindakan menjaga dan merawatnya. Syariat seluruhnya dibangun di atas kemaslahatan dan menolak kerusakan. Maknanya, setiap amal yang menjaga kehidupan, menolak bahaya, dan menghadirkan manfaat umum adalah sejalan dengan ruh syariat. Menanam mangrove termasuk di dalamnya. Jamaah yang berbahagia, Rasulullah ﷺ juga mengajarkan adab terhadap lingkungan melalui larangan-larangan yang sangat jelas. Beliau bersabda: ِات ّ َقُوا الل ّ َاعِن َي ْن Para sahabat bertanya, “Apa dua perkara yang mendatangkan laknat itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: ْال ّ َذِي ي َتَخ َل ّ َى ف ِي طَرِيق ِ الن ّ َاس ِ أَو ْ ف ِي ظِل ّ ِهِم “Yaitu orang yang buang hajat di jalan manusia atau di tempat mereka berteduh.” (HR. Muslim) Beliau juga bersabda:لَا ي َب ُول َن ّ َ أَحَدُكُم ْ ف ِي الْم َاء ِ الدّ َ ائِم ِ ال ّ َذِي لَا يَ ج ْرِي “Janganlah salah seorang dari kalian kencing di air yang tergenang dan tidak mengalir.” (HR. Bukhari dan Muslim) Hadis-hadis ini menunjukkan bahwa Islam sangat menjaga kebersihan ruang publik, air, dan lingkungan hidup. Jika membuang hajat di jalan dan mencemari air saja dilarang, maka merusak pesisir, menebang mangrove tanpa tanggung jawab, dan mencemari laut tentu lebih berat lagi dosanya. Jamaah sekalian, Dalam maqashid syariah, menjaga lingkungan berkaitan erat dengan حفظ النفس (menjaga jiwa), حفظ المال (menjaga harta), dan حفظ النسل (menjaga keturunan). Ketika mangrove hilang, pantai mudah abrasi, rumah-rumah rusak, mata pencaharian nelayan terganggu, dan keselamatan masyarakat terancam. Maka menjaga mangrove berarti menjaga kehidupan manusia. Marilah kita jadikan setiap bibit mangrove sebagai sedekah jariyah. Marilah kita tanam bukan hanya pohon, tetapi harapan. Marilah kita rawat bukan hanya tanah pesisir, tetapi amanah Allah yang dititipkan kepada kita. Karena itu, marilah kita dukung gerakan sedekah lingkungan dengan langkah-langkah nyata: menanam mangrove, menjaga kebersihan pantai, tidak membuang sampah ke sungai dan laut, mengurangi pemborosan air, menghemat energi, serta mengajarkan anak-anak kita cinta lingkungan sejak dini. Semua itu adalah bagian dari iman dan akhlak Islam. Semoga Allah menjadikan negeri kita negeri yang aman, subur, dan penuh keberkahan. Semoga Allah memberi taufik kepada para pemimpin, ulama, guru, nelayan, petani, dan seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga amanah bumi. ﴾Khutbah Kedua﴿ ْالْ ح َم ْد ُ ل ِ ل ّ َ ه ِ ال ّ َذِي هَدَانَا ل ِه َذَا وَمَا كُن ّ َا ل ِنَه ْت َدِي َ ل َوْلَا أَن ْ هَدَانَا الل ّ َ ه ُ . أَشْهَد ُ أَن ّ َي هُ لَان َبِ َدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْل ُ ح َم ّ هُ وَأَشْهَدُ أَنْ مُ هَ إِ لَ ّا الله ُ وَحْدَهُ لَاشَرِي ْكَ ل َ لَا إِ ل َ َب َعْدَهُ. اللهم صَل ّ ِ وَسَلّ ِم ْ وَبَارِك ْ عَل َى سَي ّ ِدِنَا مُح َم ّ َدٍ وَعَل َى آل ِه ِ وَصَ ح ْب ِه ِ المُج َاهِدِي ْن ِالطّ َ اهِرِي ْن َ أَمّ َ ا ب َعْدُ، ف َي َا آيّ ُ ه َا الح َاضِرُوْنَ، أ ُوْصِيْكُم ْ وَإ ِ يّ َ اي َ ب ِت َقْوَى الله ِ وَطَاعَت ِه ْل َعَلـ ّ َكُم ْ ت ُفْل ِحُوْنَ. يَا أَيّ ُ ه َا ال ّ َذِين َ آمَن ُوا ات ّ َقُوا الل ّ َ ه َ حَق ّ َ ت ُقَات ِه ِ وَلَا ت َم ُوت ُن ّ َ إِ لّ َ ا وَأَ ن ْتُم ِمُسْل ِم ُونَ، وَتَزَوّ َدُوا ف َإ ِن ّ َ خَيْر َ الزّ َاد ِ الت ّ َقْوَى. ف َقَد ْ ق َال َ الله ُ ت َعَال َى ف ِي كِت َاب ِه الـْكَرِيْم ِ أَعُوْذ ُ بِالله ِ مِن َ الشّ َ يْطَان ِ الر َ ّجِيْم ِ ، ب ِس ْم ِ الله ِ الرّ َحْم َن ِ الرّ َحِيْم ِ : (وَال ْعَصْرِ. ِ ّإِن ّ َ الْإ ِ ن ْسَان َ ل َفِي خُسْرٍ. إِ لّ َ ا ال ّ َذِين َ آمَن ُوا وَعَمِل ُوا الصّ َ الِ ح َات ِ وَت َوَاصَوْا بِالْ ح َق وَت َوَاصَوْا بِالصّ َ بْر). إِن ّ َ الل ّ َ ه َ وَمَل َائ ِكَت َه ُ ي ُصَل ّ ُون َ عَل َى الن ّ َبِي ّ ِ يَا أَيّ ُ ه َا ال ّ َذِين َ آمَن ُوا صَل ّ ُوا عَل َيْه ِ وَسَل ّ ِم ُوا ت َسْل ِيمًا. الل ّ َهُم ّ َ صَل ّ ِ عَل َى سَي ّ ِدِنَا مُح َم ّ َدٍ وَعَل َى آل ِ سَي ّ ِدِنَا مُح َم ّ َدٍ كَ م َا صَل ّ َيْت َ عَل َى سَي ّ ِدِنَا إِ بْرَاهِيم َ وَعَل َى آل ِ سَي ّ ِدِنَا إِ بْرَاهِيم َ، وَبَارِك ْ عَل َى سَي ّ ِدِنَا مُح َم ّ َدٍ وَعَل َى آل ِ سَي ّ ِدِنَا مُح َم ّ َدٍ كَ م َا بَارَكْت َ عَل َى سَي ّ ِدِنَا إِ بْرَاهِيم َ وَعَل َى آل ِ سَي ّ ِدِنَا إِ بْرَاهِيم َ، ٌَ ا َلل ّ ٰهُم َ ّ اغْفِر ْ ل ِلْم ُسْل ِم ِي ْن َ وَالْم ُسْل ِم َات ِ وَالْم ُؤْمِن ِي ْن 28ف ِى ال ْعَال َم ِين َ إِ ن ّ َك َ حَمِيد ٌ مَج ِيد وَالْم ُؤْمِن َاتِ . ا َلل ّ ٰهُم ّ َ ادْف َع ْ عَن ّ َا ال ْغَل َاء َ وَال ْوَبَاء َ وَالطّ َ اعُوْن َ وَالْا َمْر َ اض َ وَال ْفِت َن َ مَاادِ الْم ُسْل ِم ِي ْنَ ّ َ ةً وَعَنْ سَائ ِرِ ب ِل َ دِنَا هٰذَا ا ِ ن ْدُوْن ِيْسِي ّ َا خَاص ب َل َ ْلَا ي َدْف َعُهُ غَيْرُكَ عَن عَامّ َ ة ً يَا رَب ّ َ ال ْعَال َم ِي ْنَ. رَبّ َ ن َا اٰت ِن َا ف ِي الدّ ُ نْي َا حَسَن َة ً و َ ف ِي الْاٰخِرَة ِ حَسَن َة ً و َ قِن َا ِعَذَاب َ الن ّ َار ِ عِب َاد َ الله ِ ا ِن ّ َ الله َ يَأْمُر ُ بِال ْعَدْل ِ وَالْاِحْسَان ِ وَي َنْهَى عَن ِ ال ْفَحْشَاء ُوَالْم ُنْكَرِ. ي َعِظُكُم ْ ل َعَلـ ّ َكُم ْ ت َذَكّ َ ر ُوْنَ. ف َاذْكُر ُوا الله َ ال ْعَظِيْم َ ي َذْكُرْكُمْ. و َ اشْكُر ُوْه ُعَل ٰى ن ِعَمِه ِ ي َزِدْكُمْ. وَل َذِكْر ُ الله ِ ا َكْ ب َر


masih dalam kajian


Menjaga Nikmat, Mencegah Krisis, dan Mewujudkan Kemaslahatan Umat
Membangun kesadaran spiritual, sosial dan kepedulian lingkungan dalam perspektif islam